Rabu, 19 Februari 2014

trijiiiiii kangen kangen kangeeeeennnn! kangen to the max sumpaaaahhhhh. susah loh yaa ternyata cari temen yg bener bener tulus:') gtemen gua sialan semua. didepan baik, tapi nusuk dari belakang. awalnyaa semua baik baik aja, tapi lama kelamaan mulai keliatan kalo kyknya tuh mereka nyembunyiin banyak hal. serasa kayak apaya? yaaa begitulah. gua sampe frustasi. gua mikir apa gua bakal kuat bertahan hidup dengan 'temen' kyk mereka semua? bener loh kata pak hari "gaada pertemanan sejati. yg ada cuman kepentingan sejati". mereka dtg kalo butuh gua doang. kalo nanya ttg pelajaran atau contekan lari nya ke gua. yaudalahya jalanin aja semua yg ada duluu. gua kangen ketawa lepas bareng lu lu padaa. gua kangen saat saat dimana gua bisa ngelupain semua masalah yg gua punya karna kumpul sama lu semua. malah gua ngerasa kalian tuh lebih dari sekedar keluarga bagi gua. disaat keluaga gua sibuk dng urusan masing masing, kalian ada dan bisa buat gua ketawa. kadang, gua suka kesel sama diri gua sendiri kalo lagi flashback ttg tiga tahun yg kita lewatin. gua kesel. rasanya gua pengen ngulang itu semua, tapi gua gabisa apa apa. dan sialnya saat gua sadar, gua sekarang yaa gini. gua emg punya temen di SMA, tapi rasanya beda. gua suka ngerasa, mereka tuh cuman org lain yg lagi nyamar dan pura pura pake 'topeng pertemanan'.
"so rare to find a friends like you loh 3G :'''''''')))))))))"

Selasa, 11 Februari 2014

cerpen gajelas sejagad



3G, liat deh cerpen buatan gua buat tugas bahasa beberapa hari lalu.. hahaha, cerita gk jelas, tapi, selamat menikmati aja yaa
 
Kuseka peluh yang mulai menetes di dahiku. Suhu tubuhku mulai naik lagi. Aku harus segera menyelesaikan soal biologi yang baru setengah kukerjakan. Hari ini nasibku benar-benar sial. Ditengah ujian akhir semester ini, aku malah menderita demam dan flu berkepanjangan sejak seminggu lalu. Ditambah lagi aku lupa membawa tisu ataupun sapu tangan bersulam dari nenek. Jadilah jilbab putihku basah karena keringat.
Oh ya, aku baru teringat akan senjata terakhirku yang terselip di saku kanan celana. Kurogoh saku dan kukeluarkan benda bulat putih berbungkus itu. Tertulis di bungkusnya besar-besar, ‘OBAT FLU, obat ini dapat menyebabkan kantuk’. Halah, masa bodoh dengan ngantuk, karena memang itulah niat awalku, tidur. Semalam aku tak sempat tidur karena demam tinggi dan masih harus belajar materi hari ini. Lagipula, beruntungnya aku kalau ternyata di mimpiku nanti aku bertemu kakak sepupuku yang sangat amat pintar sekali banget. Aku bisa bertanya jawaban dari soal tak berperikemanusiaan ini.
Kutenggak obat bulat itu. 2 menit. 5 menit. 15 menit. Astagaaaa, aku tak juga kunjung mengantuk. Di menit ke 25, yang ditunggu akhirnya datang juga. Suasana ruang ujian yang sepi, ruangan yang temaram dan sejuk, seperti mendukungku sepenuh hati untuk memejamkan mata sejenak. Baru 5 menit kupejamkan mata, ruangan tiba-tiba ramai. Oh tidaaakkk! Aku mengeluh hebat dalam hati. Seekor katak hijau dan seekor katak cokelat meloncat-loncat masuk ke dalam kelas, membuat semua teman perempuanku menjerit dan berusaha naik ke atas kursi masing-masing. Ok, itu lebay, tapi memang begitulah yang terjadi.
Berlagak jadi superhero, guru pengawasku yang bermuka killer segera mengeluarkan 2 ekor katak pengacau itu. Suasana kembali tenang, dan mataku kembali terasa berat. Kupejamkan kembali kedua kelopak mata yang memaksa menutup. Namun tak sampai 5 menit kemudian terdengar suara berbisik 2 orang lelaki. Aku heran, seluruh teman sekelasku bergender perempuan, guru pengawas takberbicara sepatah kata pun tadi dan juga tak membawa anak lelakinya, dan tak ada lelaki di sekitar ruangan. Jadi siapa yang berbisik-bisik tadi?
Aku berpura-pura tidak mendengar dan menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, dan suara berbisik itu muncul lagi! Kali ini aku marah. Tidurku selalu saja terganggu. Siapa sih yang berani berbisik di dekat putri tidur yang sedang ingin tidur ini?? Kualihkan pandangan ke seluruh kelas, semua orang sibuk dengan kertas soal di hadapan mereka sendiri, guru pengawas juga sedang asik membaca koran. Jadi siapaaa? Kok mulai horor ya jadinya?
“hei, di bawah sini nona muda”, ucap suara berbisik itu. Sekejap saja sudah muncul 2 katak yang beberapa waktu lalu memasuki ruangan ini. Dan..wow, mereka berdua bisa berbicara!
“kulihat kau gelisah nona, ada apa? Apa ada yang bisa kami bantu?”, Tanya katak hijau sopan.
“aku tidak apa, hanya sedikit mengantuk dan tidak mengerti maksud soal-soal ini. Jujur, soal ini susah banget deh!”, jawabku ikut berbisik. Kedua katak ber-ooh panjang.
“kami bisa bantu”, kata si cokelat kemudian.”tapi dengan satu syarat”
“saat jam ujian usai dan berganti menjadi jam istirahat, pergilah ke laboratorium biologi. Kau akan menemukan kaleng merah bertutup sama di tempat sampah. Bukalah toples itu. Bagaimana?”, sambung si katak hijau.
Aku mengedipkan mata tanda setuju. Dan dimulailah penjelasan singkat mengenai soal-soal biologi di hadapanku. Mereka pandai menjelaskan, aku langsung mengerti dibuatnya. Apalagi ketika materi genetika. Mereka membawa anak dan istri mereka untuk memperjelas materi tersebut. Yang anehnya, seluruh ruangan seperti tak melihat ada begitu banyak katak di dalam ruangan, khususnya di mejaku.
Dalam beberapa menit, semua soal selesai. Aku berterimakasih pada mereka dan berjanji akan membuka toples begitu bel istirahat berbunyi. Ketika seluruh katak sudah pergi dari ruang ujian, mulai terdengar lagi suara-suara ramai teman sekelas. Tiba-tiba saja ada yang memukul pundakku, dan aku terbangun! Ooh, tidak, aku bernasib sangat buruk. Kejadian tadi hanya mimpi. Jawaban-jawaban tadi..tunggu. aku kembali mengecek lembar jawabanku. Ajaibnya, semuanya sudah terisi. Mimpi tadi terasa begitu nyata buatku.
Tak lama kemudian, bel berbunyi. Waktunya istirahat.
“Listya, ke kantin yuk!”, ajak Vero, sahabat karibku sejak sekolah dasar, yang langsung saja kusambut dengan ceria. Demamku sudah turun, dan sekarang perutku yang meronta minta jatah.
Kupesan mie ayam pangsit favoritku dan duduk di meja paling ujung favoritku dan Vero. Tak lama Vero datang dengan sepiring siomay dan duduk tepat di depanku.
“jadi, gimana ujian tadi? Susah banget kan soalnya?”, Tanya Vero minta pendapatku.
“emaaaanngg! Susah banget! Nyam nyam..”, jawabku tanpa beralih dari mangkuk mie ayam.
“kyaaaaa, Lis, ada kodok tuh!”, Vero berteriak histeris tiba-tiba. Buset, suaranya melengking banget! Seolah nusuk banget ke telingaku.
“iya, iya, kodok. Terus kenapa?”, jawabku datar. Eh, tunggu. Kodok.. kodok.. kayaknya inget sesuatu deh, apa ya? Hmm, oh iya, katak hijau dan cokelat! Aku berjanji pada mereka akan membuka toples merah di lab biologi jam istirahat ini.
“Ver, anterin yuk. Aku ada urusan nih di lab biologi”
“hah? Ngapain ke lab biologi? Jauh tauk dari kantin” protes Vero
“udahlah, kamu tinggal ngikut aja. Nanti aku yang bayarin deh siomay kamu itu.”
“tapi Lis, tapi…”. Segera kutarik tangan Vero pergi sebelum ia melancarkan protes keduanya yang bakalan panjang banget.
“bang, titip siomay sama mie ayam yaa, jangan diberesin dulu. nanti balik lagi kok” pesanku pada abang-abang tukang mie ayam, bang Ucok, yang sudah sangat mengenalku, pelanggan setianya.
Sisa waktu istirahat itu aku habiskan dengan berlarian sepanjang koridor menuju lab biologi bersama Vero yang mulai ngomel-ngomel  tak tentu arah. Akhirnya sampai juga di lab biologi, yang secara kebetulan tidak terkunci. Pintu lab berdecit nyaring ketika kubuka. Bau obat-obat yang sama sekali asing buatku langsung menyergap indera penciumanku. Dengan menguatkan hati dan hidung, aku segera melangkah masuk dengan Vero yang masih setia mengekor di belakang.
Tak sulit menemukan toples merah itu di tempat sampah. Selain ukurannya yng bisa dibilang cukup besar, warna merahnya juga terang menyala, membuatnya sangat mencolok di antara sampah-sampah yang lain. Kubuka toples itu dengan perasaan lega, janjiku telah kutunaikan. Tak kuduga, di dalamnya juga ada sebuah kalung dengan leontin cantik bertuliskan namaku. Aku ingat, ini kan kalungku yang hilang beberapa hari lalu ketika pelajaran olahraga. Ternyata kedua katak itu telah menemukannya. Sekarang aku penasaran, dimana katak-katak itu berada. Dan jawabannya langsung muncul dari celetukan Vero.
“Lis, liat deh katak bekas pembedahan kakak kelas kita. Kasian banget kataknya”
Kejadian setelahnya tak perlu kuceritakan, kurasa. Terlalu menyedihkan. Yang pasti setelah itu aku kehilangan seluruh selera makanku dan membiarkan Vero menghabiskan siomay sekaligus mie ayam pesananku, tentu saja aku yang membayar semuanya sesuai janjiku pada Vero. Duh, apes, apes..

aini